Showing posts with label Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Cirebon. Show all posts

Sunday, 23 August 2015

Objek Wisata Cirebon

Banyak sekali tempat wisata yang ada di Cirebon, jangan pernah melewatkan ketika anda berada di Cirebon atau pun sekedar lewat. Berikut ini merupakan tempat wisata Cirebon Jawa Barat yang dapat anda jadikan destinasi wisata :

1. Winawisata Ciwaringin


Hutan Wisata yang ada di Cirebon menampilkan keindahan alam dan banyak di tumbuhi oleh pohon kayu putih. Menyediakan lokasi bagi para penggemar jalan kaki dan area motor cross. Di lokasi ini juga terdapat Danau Ciranca bagi para penggemar memancing,. Jika anda gemar memancing, anda bisa memancing di danau ini, dan membawa pulang ikan segar hasil memancing sendiri tentu sangat menyenangkan.
Winawisata  Ciwaringin ini berada di Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin, 17 km dari kota sumber.
Anda berminat untuk mengunjungi Winawisata ini? Karena selain pemandangannya yang asri untuk berjalan kaki, tempat ini bisa untuk di jadikan destinasi wisata ketika anda berada di Cirebon.

2. Desa Wisata Cikalahang


Untuk anda yang hobi memancing, tempat wisata di Cirebon yang satu ini pastinya menjadi pilihan utama. Di tempat inilah anda bisa menyalurkan hobi memancing anda, tepatnya di Desa Wisata Cikalahang.

Desa ini terletak di kaki Gunung Ciremai dekat sekali dengan Telaga Remis, bisa di bilang di Desa Cikalahang dipenuhi dengan Home Industry para warga. Dimana sebagian besar mata pencaharian warganya sebagai petani dan pedagang. Jika anda memasuki Desa Cikalahang anda akan melihat banyak sekali restorant rumah makan ikan bakar yang berjajar menuju tempat wisata, bahkan di tiap tempat makan terdapat kolam besar dan jernih tempat anda bisa langsung memancing. Terdapat berbagai ikan tawar seperti ikan nila, mujair, patin gurame dan lainnya. Karena banyak pesaing, maka tidaklah heran di Desa ini selalu di padati pengunjung. Anda berminat mencicipi ikan bakar di Cikalahang?

3. Situ Sedong


Situ (waduk) Sedong merupakan waduk buatan di wilayah Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Setu ini berfungsi menampung air hujan dan sungai sebagai pengairan daerah pertanian sekitar kec. Sedong. Manfaat yang di peroleh dari setu ini begitu besar, selain sebagai pengairan dan irigasi, Setu Sedong juga menyimpan kelebihan air pada musim hujan. Dengan kedalaman 5-10 meter, dengan luas hampir 150 hektare. Jelaslah bahwa penampungan air untuk kebutuhan irigasi tercukupi, dengan syarat tidak terjadi kekeringan berkepanjangan di daerah ini.


Situ Sedong dapat di kunjungin lewat dua jalur, yaitu jalur Cirebon dan jalur Sindang Laut. Jalan menuju Situ Sedong begitu menanjak, bahkan dalam perjalan pun kita bisa menikmati pemandangan area pesawahan yang di tumpang sari dengan tanaman mangga. Setelah sampai, kita dapat mengitari Setu Sedong dari arah selatan. Di selatan area ini juga terdapat area pesawahan yang begitu hijau, menambah sejuk pemandangan yang ada. Bagi sahabat yang suka memancing, jangan khawatir, di Setu Sedong banyak ikannya, dan memancing disini tidak di pungut biaya. Dari pengalaman memancing, lumayanlah untuk sekedar menghibur dengan sensasi menyentak pemancingan.

Tempat yang Bagus untuk melihat keseluruhan Setu Sedong adalah dengan memutar ke sebelah kiri dari jalan masuk, kemudian ada semacam dermaga yang merojok ke dalam Setu Sedong. Nah dari sini terlihat jelas keindahan Setu ini. Sebenarnya semua objek yang didukung dengan keindahan alam sekelilingnya yang menawarkan pesona alam yang eksotis.


4. Taman Ade Irma Suryani Nasution


Taman Ade Irma Suryani, menurut beberapa sumber, dahulu Taman ini bernama asli Taman Traffic Garden Cirebon. Namun sejak tahun 1966 berubah menjadi Taman Ade Irma Suryani Nasutin. Taman ini merupakan satu-satunya taman rekreasi dan taman bermain di kota Cirebon.

Taman  Ade Irma Suryani terletak berdampingan dengan pelabuhan Cirebon dengan lokasi di bibir pantai Kecamatan Lemah Wungkuk kota Cirebon. Memiliki area 20 hektare. Memiliki 36 unit yang di desain mumimalis modern., kolam renang anak olympic, waterboom, air panas alami, sea viev restaurant dan beberapa tempat rekreasi lainnya.

Taman Ade Irma sebelumnya merupaka wahana kebun binatang dan rekreasi ini sudah di ubah menjadi Water Land Ade Irma Suryani dengan menghabiskan ivestasi hampir senilai 60 miliar. Nantinya akan ada juga restaurant berbentuk kapal yang terdiri dari 3 lantai berkapasitas 50 orang. Yang bisa di gunakan untuk, meeting,gathering syukuran dan lain-lain.

Bagaimana, ingin mencoba wisata Water Land Ade Irma Suryani? Sempatkan untuk berkunjung saat anda sedang berlibur ke Cirebon.

5. Pantai Kejawanan


Berwisata ke Pantai Kejawanan merupakan salah satu objek wisata yang juga sangat menarik. Lepas laut Jawa terbentang di depan mata membentuk panaroma tersendiri. Bahkan dari kejauhan anda dapat melihat kapal-kapal pengangkut batu bara tampak membuang sauh Hiruk piruk anak-anak bermain air laut semakin mewarnai pemandanga disana. Akan tetapi semua itu belum dirasakan sempurna oleh pengunjung. Karena sebagai objek wisata yang sangat potensial, Pantai Kejawanan agaknya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Cirebon. Namun walaupun begitu, rasa haus masyarakat akan obyek wisata alam, menjadikan Pantai Kejawanan selalu ramai di padati oleh para pengunjung dari berbagai daerah, khususnya pada hari libur.


Bahkan menurut masyarakat sekitar, Pantai Kejawanan dapat mengobati penyakit selain sebagai tempat rekreasi. Konon pantai Kejawanan ini digunakan sebagai tempat pengobatan berbagai macam penyakit, karena air panta Kejawanan diyakini dapat menyembuhkan penyakit seperti reumatik, asam urat, diabetes, stroke, radang tenggorokan, penyakit kulit serta batuk-batuk. Yaitu dengan cara berendam di dalam air atau berkumur-kumur.

Wah, sepertinya boleh di coba untuk desntinasi wisata saat berkunjung ke Cirebon. Anda tertarik?

6. Gua Sunyaragi


Gua Sunyaragi merupakan salah satu objek wisata sejarah yang ada di Cirebon dan merupakan cagar budaya yang ada di Cirebon, dengan luas sekitar 15 Hektare. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brihjen Darsono Cirebon Di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan juga banyak hiasan taman seperti patung gahag, patung wanita Perawan Sunti, dan patung Garuda. Konon menurut legenda, yang paling unik disana adalah mitos mengenai patung Perawan Sunti. Menurut masyarakat sekitar, apabila seorang perempuan yang masih perawan memegang patung tersebut, maka dia akan menjadi perawan tua. Karena terkenal dengan sejarahnya, Tamansari Sunyaragi mulai di lengkapi beberapa fasilitas.


Mulai dari kios cinderamata, bahkan pusat informasi wisata pun tersedia disana. Bagi yang berminat mengisi waktu luangnya, bisa berkunjung ke kawasan ini. Selain dapat mempelajari sejarah, kita pun dapat menikmati panaroma alam yang tersaji. Hanya mengocek dompet lima ribu rupiah saja, kita bisa berkeliling mengitari gua bersejarah itu. Kita juga bisa memasuki ke dalam gua terdalam yang memiliki ruang sempit dan sangat gelap. Maka dari itu, untuk memasukinya kitaa membutuhkan alat penerangan berupa lilin atau senter.


Di depan candi-candi yang membentuk gua tersebut, kita juga akan mendapati sebuah lapangan terbuka yang beralaskan sememn dengan sederet dipan yang terbuat dari batu. Disanalah biasanya di adakan pertunjukan seni atau teater sebagai wahana rekreasi baru di tempat bersejarah itu.


Sungguh menarik untuk di kunjungi Gua Sunyaragi Cirebon ini.

7. Keraton Kesepuhan


Keraton Kesepuhan merupakan Keraton megah di kota Cirebon.Bagi anada yang memiliki kegemaran wisata, rasanya perlu juga untuk mengunjungi destinasi wisata yang satu ini. Keraton Kesepuhan merupakan sebuah komplek bangunan megah warisan Kesultanan kesepuhan yang berdiri beratus-ratus tahun lalu dan hingga kini masih terawat dengan baik.

Letaknya yang berada di dekat pusat kota Cirebon memudahkan pengunjung untuk mencapainya. Hanya perlu beberapa menit saja dengan berkendara kearah  selatan dari stasiun kereta api Kejaksaan untuk menuju lokasi. Atau jika senang berjalan kaki, pengunjung dapat mencapai Keraton Kesepuhan dengan santai sambil menikmati suasana jalan kota Cirebon yang sedikit ramai. Hanya saja harus mempertimbangkan kondisi cuaca di Cirebon  yang panas agar tidak lemas karena kepanasan.

Keraton Kesepuhan di bangun oleh Pangeran Mas Mochamad  Ariffin II pada masa perkembangan islam di Cirebon, atau sekitar tahun 1529. Komplek Keraton Kesepuhan yang ada sekarang ini merupakan perluasan dari bangunan Keraton sebelumnya yang bernama Keraton Pakungwati. Nama ini di ambil untuk menghormati putri Pangeran Cakrabuana yang bernama Ratu Dewi Pakungwati.


mengikuti konsep struktur bangunan Kesultanan Islam pada umumnya yang berada di wilayah Jawa, Keraton Kesepuhan memiliki struktur letak bangunan yang sama dengan beberapa Keraton yang ada di Pulau Jawa seperti Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta. Dimana bangunan Keraton menghadap ke arah utara dan di dekat bangunan utama Keraton terdapat Masjid yang di gunakan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Masjid yang berada di sebelah barat alun-alun Keraton ini di bangun oleh Wali Songo dan di beri nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa.


Saat hendak memasuki komplek Keraton, disamping kiri dan kanan di depan gerbang utama terdapat dua bangunan yang berbentuk persegi. Bangunan di sebelah kanan disebut pancaratna dimana pada zaman dulu di gunakan sebagai tempat berkumpulnya para punggawa dan pamong praja. Sementara yang disebelah kiri bernama pancaniti yang berfungsi sebagai tempat para perwira Keraton menyaksikan para prajurit Keraton yang sedang berlati ilmu bela diri di alun-alun Keraton.

Setelah memasuki gerbang utama Keraton, pada sisi sebelah kiri jalan menuju bangunan Keraton, terdapat komplek bangunan yang lebih tinggi dari sekitarnya, yang disebut dengan Siti Inggil. Bangunan ini merupakan tempat Sultan dan para pejabat Keraton  duduk ketika menyaksikan acara yang di adakan di alun-alun Keraton yang posisinya berada tepat di depan Komplek Keraton Kesepuhan.

Sebelum mencapai bangunan utama Keraton anda akan melewati satu pintu gerbang lagi, serta beberapa bangunan yang berada di samping kiri dan kanan jalan. Letak bangunan utama Keraton snediri berada disisi sebelah selatan taman  Dewandaru dan merupakan bangunan terbuka yang bercat putih. Di depan bangunan Keraton terdapat dua patung Harimau yang menandakan hubungan sejarah antara Keraton Kesepuhan dengan Kerajaan Padjajaran.


Banyak sekali terdapat koleksi benda-benda peninggalan zaman dulu yang tersimpan di dalam museum yang berada di dalam komplek Keraton. Ada beberapa benda peninggalan di museum berasal dari Eropa dan Mesir maupun Cina. Ini merupakan pada masa itu telah terciptanya hubungan antara Keraton Kesepuhan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Satu benda peninggaln Kesultanan Kesepuhan yang paling terkenal adalah berupa kereta kuda yang di beri nama Kereta Singa Barong yang merupakan perwujudan simbol percampuran budaya yang terjadi di masa lalu. Hal ini tergambar pada bentuk kereta yang berupa sosok hewan dengan memadukan beberapa bagian tubuh hewan yang melambangkan bangsa tertentu.


Setiap setahun sekali pada bulan Muharam di Keraton Kesepuhan selalu di adakan acara panjang jimat untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Prosesi acara yang berlangsung pada malam hari ini senantiasa disesaki oleh ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.


Sumber : Wisata Cirebon

8. Keraton Kanoman 


Jika telah puas menikmati wisa sejarah Keraton Kesepuhan Cirebon yang menyimpan banyak koleksi benda-benda peninggalan sejarah Kesultanan Islam di Cirebon, sempatkan diri untuk mengunjungi komplek Keraton Kanoman yang letaknya tak begitu jauh dari Keraton Kesepuhan. Meski berada di balik riuhnya pasar Kanoman, pengunjung tak akan kesulitan untuk menemukan letak komplek Keraton Kanoman, karena keberadaannya yang begitu populer.

Pada awalnya wilah Kanoman merupakan bagian dari daerah kekuasaan Kesultanan Kesepuhan. Namun, sekitar tahun 1678 wilayah Kanoman berdiri sendiri sebagai wilayah Kesultanan dan di pimpin Pangeran Badridin Kertajaya yang bergelar Sultan Anom I.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di komplek Keraton Kanoman, pengunjung akan melihat bangunan kompkel yang di dominasi warna putih. Di depan komplek sebelum memasuki wilayah bagian dalam Keraton, terdapat bangunan persegi yang terbuka dan disebut dengan Mande Manguntur. Pada masa lalu tempat ini di gunakan oleh Sultan dan permaisurinya untuk duduk ketika bertemu dengan rakyat atau saat menyaksikan pagelaran sekaten yang di adakan oleh istana setiap setahun sekali.

Sama seperti struktur bangunan komplek Kesultanan Kesepuhan, di komplek Keraton Kanoman pun terdapat masjid yang berada di sisi barat Keraton. Dan di depan Keraton seberang alun-alun terdapat pusat perekonomian berupa pasar tradisional warga.

Sebagian besar dinding bangunan Keraton dihiasi dengan tempelan piring-piring keramik asal Tiongkok, meski pun pada beberapa bagian telah hilang. Pada salah satu sudut komplek disamping jalan yang menuju bagian dalam Keraton Kanoman, terdapat patung harimau yang seakan menyiratkan adanya pengaruh budaya dari Kerajaan Padjajaran.


Di masa lalu, Keraton Kanoman merupakan pusat perkembangan kebudayaan Islam di Cirebon, bahkan hingga kini pun kerabat Keraton masih memegang teguh adat istiadat yang di lakukan oleh para sesepuh pada zaman dulu. Seperti misalnya masih di adakannya upacara Grebek Syawal yang biasa digelar beberapa hari setelah hari raya Iedul Fitri dan selalu dihadiri oleh ribuan warga Cirebon.

Banyak sekali pengetahuan yang anda dapat dengan mengunjungin wisata sejarah Keraton Kanoman ini. Maka tak berlebiham jika ,emjadikan obyek wisata Keraton Kanoman sebagai tujuan wisata keluarga saat berkunjung ke kota Cirebon


Friday, 21 August 2015

Kebudayaan Cirebon

1. Tari Topeng


Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.

Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng

Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silakan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya

2. Sintren

 

Di tengah-tengah kawih, muncullah Sintren yang masih muda belia. Yang konon haruslah seorang gadis, karena kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas. Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara logika, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca doa dengan asap kemenyan mengepul. Dan Juru kawih pun terus berulang-ulang nembang.

Ketika kurungan dibuka, anehnya sang sintren telah berganti busana lengkap dengan kaca mata hitam. Setelah itu sang sintren pun akan menari. Tarian sintren sendiri lebih mirip orang yang ditinggalkan rohnya. Terkesan monoton dengan gesture yang kaku dan kosong. Dan disinilah uniknya kesenian ini. Ketika sang sintren menari, para penonton akan melemparkan uang logam ke tubuh sang penari. Ketika uang logam itu mengenai tubuhnya, maka penari sintren pun akan pingsan dan baru akan bangun kembali setelah diberi mantra-mantra oleh sang pawang.

Setelah bangun kembali, sang penari sintren pun meneruskan kembali tariannya sampai jatuh pingsan lagi ketika ada uang logam yang mengenai tubuhnya. Dan konon, ketika menari tersebut, pemain sintren memang dalam keadaan tidak sadar alias kerasukan. Misteri ini hingga kini belum terungkap, apakah betul seorang Sintren berada dibawah alam sadarnya atau hanya sekadar untuk lebih optimal dalam pertunjukan yang jarang tersebut. Terlepas dari ada tidaknya unsur magis dalam kesenian ini, tetap saja kesenian ini cukup menarik untuk disaksikan.

Bagi anda yang tertarik ingin mementaskan kesenian ini di daerah anda, setidaknya di Cirebon ada dua grup Sintren yang masih eksis dan produktif, masing masing pimpinan Ny. Nani dan Ny. Juju, yang beralamat di Jl. Yos Sudarso, Desa Cingkul Tengah, Gang Deli Raya, Cirebon, Jawa Barat. Kedua kelompok ini sering diundang pentas di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

3. Kesenian Gembyung 


Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Untuk pastinya kapan kesenian ini mulai berkembang di Cirebon tak ada yang tahu pasti. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.Gembyung merupakan jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet

Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya eksis dilingkungan pesantren, karena pada gilirannya kesenian ini pun banyak dipentaskan di kalangan masyarakat untuk perayaan khitanan, perkawinan, bongkar bumi, mapag sri, dan lain-lain. Dan pada perkembangannya, kesenian ini banyak di kombinasikan dengan kesenian lain. Di beberapa daerah wilayah Cirebon, kesenian Gembyung telah dipengaruhi oleh seni tarling dan jaipongan. Hal ini tampak dari lagu-lagu Tarling dan Jaipongan yang sering dibawakan pada pertunjukan Gembyung. Kecuali Gembyung yang ada di daerah Argasunya, menurut catatan Abun Abu Haer, seorang pemerhati Gembyung Cirebon sampai saat ini masih dalam konteks seni yang kental dengan unsur keislamannya. Ini menunjukkan masih ada kesenian Gembyung yang berada di daerah Cirebon yang tidak terpengaruh oleh perkembangan masyarakat pendukungnya.

Kesenian Gembyung seperti ini dapat ditemukan di daearah Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda, Cirebon. Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah kempling (kempling siji, kempling loro, kempling telu dan kempling papat), Bangker dan Kendang. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung tersebut antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar. Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa dipakai untuk ibadah shalat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau kemeja putih, dan kain sarung.

4. Lukisan Kaca


Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa. Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan Lukisan Kaca Wayang.

Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik? Karena Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif Batik Cirebon


5. Batik


Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya Batik Cap yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak Mega Mendung, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix.. Bangsa Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

(Sumber : Fahmina Institute, Cirebon)

Wednesday, 19 August 2015

Sejarah Cirebon


KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.
Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723.