Showing posts with label Kuningan. Show all posts
Showing posts with label Kuningan. Show all posts

Monday, 31 August 2015

Keindahan Wisata Kuningan

Kabpupaten Kuningan merupaka salah satu wilayah di daerah Jawa Barat. Dan juga merupakan bagian dari Wilayah Tiga Cirebon atau ciayumajakuning. Di Kuningan sendiri banyak sekali objek wisata uang sangat menarik, dan juga bisa di jadikan destinasi wisata ketika anda berkunjung kesini. Apa saja Objek Wisata di Kuningan tersebut?

1. Talaga Remis



salah satu sudut telaga remis

Talaga Remis adalah sebuah danau yang berlokasi di kaki gunung ciremai. Talaga Remais berada di desa Kadueala Kecamatan Mandirancan Kabupaten Kuningan, berjarak sekitar 37 km dari pusat kota Kuningan.

2. Taman Wisata Alam Linggarjati



Taman ini memiliki panorama alam yang indah dan udara yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari taman wisata alam ini terdapat sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah, yaitu gedung tempat di adakannya perjanjian Linggarjati antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda yang mempunyai daya tarik sendiri. Di taman ini anda dapat menikmati keindahan alam dan sekitarnya, seperti memancing dan berenang.

Lokasi Taman ini berada di Desa Linggarjati Kecamatn CIlimus Kabupaten Kuningan.

3. Waduk Darma



Pemandangan yang inda dan udara ang sejuk sangat cocok di jadikan sebagai tempat rekreasi keluarga libur atau waktu senggang lainnya.

4. Sumur Tujuh Cibulan



Di daerah ini terdapat sumur tujuh bulan yang merupakan tempat Petilasan Prabu Siliwangi yang di gunakan untuk bersuci ketika bersemedi dan juga merupakan salah satu tempat bersejarah dalam penyebaran Islam di Kuningan melalui kegiatan para wali songo.



Menurut cerita sesepuh atau Juru Kunci Cibulan, Cibulan berasal dari kata Cai Katimbulan atau dalam bahasa Indonesia berarti air yang timbul. Di setiap kolam renang Cibulan dihuni pula Ikan Kancra Bodas atau Ikan Dewa.

Jadi pengunjung yang berenang di Cibulan bisa langsung berinteraksi dengan Ikan Dewa berukuran kecil, sedang hingga besar. Di sini ukuran Ikan Dewa ada  sekitar 20 centimeter hingga 1 meter. Ikan Kancra Bodas atau Ikan Dewa adalah ikan yang dikeramatkan oleh warga Desa Manis Kidul, karena ikan ini memiliki keistimewaan.



Konon katanya menurut masyarakat sekitar dahulunya ikan ini adalah titisan dari prajurit Prabu Siliwangi yang membangkang dan tidak setia terhadap beliau. Ceritanya sih mereka di kutuk Prabu Siliwangi jadi Ikan Dewa, dari dulu sampai sekarang mitosnya jumlah Ikan Dewa tetap segitu, tidak bertambah atau pun berkurang. Jika ada yang mengambil atau menggangu ikan tersebut biasanya akan kena petaka

Selain kolam renang dengan ikan dewanya yang banyak dan jinak, di sudut barat pemandian ini juga terdapat tujuh sumber mata air yang dikeramatkan yang bernama Tujuh Sumur. Tujuh mata air ini berbentuk kolam-kolam kecil yang masing-masing mempunyai nama tersendiri, yaitu:

1. Sumur Kejayaan
2. Sumur Kemulyaan
3. Sumur Pengabulan
4. Sumur Cirancana
5. Sumur Cisadane
6. Sumur Kemudahan, dan
7. Sumur Keselamatan.

5. Lembah Cilengkrang



Lembah Cilengkrang merupakan objek wisata alam di Kuningan yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Tempat wisata ini lokasinya berbatasan dengan desa Pejambon, kecamatan Kertamulya Kabupaten Kuningan. Daya tarik Lembah Cilengkrang ini adalah pemandangan alam, bumi perkemahan, ari panas dan tentunya yang utama adalah air terjun.



6. Curug Putri




Curug Putri atau Curug Ciputri, tempat ini berlokasi di kawasan Bumi Perkemahan Palutungan, tepatnya di Kecamatan Cigugur. Curug Putri berada tidak jauh dari pusat kota Kuningan, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit  anda sudah bisa sampai ke Curug Putri ini. Curug Putri memiliki tinggi sekitar 20 meter dan airnya berasal dari mata air di hutan Gunung Ciremai.

Saturday, 29 August 2015

Kebudayaan Kuningan

Kuningan merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Barat, bertetanggaan dengan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Kuningan terletak persis di sekitar kaki Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Dengan ketinggian kurang lebih 3078 m di atas permukaan laut. Sebagai kabupatenyang terletak di bawah kaki gunung, Kuningan tentunya memiliki suasana udara yang cukup sejuk, dikelilingi oleh pemandangan indah dengan hamparan pesawahan. Sebagaimana daerah lain, Kuningan juga memiliki budaya-budaya asli daerahnya, seperti berikut ini :

1. Upacara Saren Taun



Saren Taun merupakan kata dalam bahasa sunda, yaitu saren  yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Jadi Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat di tahun yang akan datang,

Di Kuningan sendiri upacara ini biasanya di lakukan oleh penduduk desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, namun berdasarkan sumber ternyata upacara ini tidak hanya dilakukan di desa tersebut saja, melainkan juga dilakukan di Desa Ciptagelar, Cisolok Kabupaten Sukabumi. Selain itu juga dilakukan di Desa Pasir Eurih Bogor, Desa Kenekes Lebak Banten dan juga Kampung Naga Tasikmalaya.

2. Tari Buyung



Tari Buyung merupakan tarian khas masyarakat Cigugur Kabupaten Kuningan. Tari Buyung ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara seren taun. Hal ini karena tarian ini merupakan tarian utama dalam upacara seren taun di Desa Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis desa Cigugur yang sedang mengambil air ke sungai.

3. Tari Cingcowong




Cingcowong pada zaman dulu merupakan salah satu upacara ritual untuk meminta hujan. Upacara ini dilakukan pada saat musim kemarau panjang. Tradisi awal Cingcowong atau upacara ritual ini dipercaya masyarakat, khususnya Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan. Setiap datang kemarau upacara ritual Cingcowong selalu dilaksanakan agar laha pertanian mereka terhindar dari kemarau dan segera turun hujan.

Saat ini untuk melestarikan Cingcowong, Dinas Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Kuningan mencoba satu tarian ini ahar tidak menjadi punah. Pada pertunjukannya yaitu Cingcowong tidak lagi sebagai seni ritual, akan tetapi sudah dikembangkan dan diangkat menjadi seni pertunjukan dengan perkembangan zaman. Sampai sekarang tari Cingcowong berkembang dan sering ditampilkan pada acara-acara seremonial baik kebutuhan menyambut pemerintah ataupun hiburan lainnya.

4. Sapton dan Panahan Tradisional




Secara etimologi dan historis, bahwa kegiatan Sapton dan Panahan Tradisional adalah acara rutin setiap hari sabtu setelah kegiatan serba raga (sidang) yang dilaksanakan disekitar Istana Kerajaan Kajene (Kuningan), dan mempunyai makna yang dalam seperti, heroisme, ketangkasan berkuda dan panahan dalam bela negara serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya. Dalam upaya promosi kepariwisataan daerah dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional daerah serta memeriahkan hari jadi Kuningan. Setiap tahun pada bulan september di selenggarakan Septonan dan Panahan Tradisional.

5. Kawin Cai



Upacara adata Kawin Cai  merupakan tradisi Desa Babakan Mulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan untuk memohon air (hujan) untuk mengairi pertanian. Upacara kawin cai ini di laksanakn apabila terjadi kemarau berkepanjangan atau sangat sulit mendapatkan air antar bulan september. Dengan mengambil lokasi disumber mata air telaga balong Tirta Yarta pada malam jum'at Kliwon, pada pelaksanaannya selain dihadiri dan diikuti oleh pamong desa. Tokoh masyarakat desa setempat juga oleh masyarkat desa tetangga yang lahan pertaniannya terairi dari sumber mata air telaga/ balong Tirta Yarta. Selain berdoa, sesepuh desa mencampurkan air yang diambil dari mata air telaga Tirta Yarta dengan mata air Cikembulan (Cibulan). Ini lah yang dipake upacara ada Kawin Cai oleh masyarakat setempat yang intinya mengambul barokah dari dua sumber mata air tersebut.

6. Sintren

Sintren di daerah Kuningan ini tidak berbeda dengan dengan sintren yang ada di Cirebon. Di karenakan sejak tahun 1930 Sintren di bawa dari daerah Pesisir CIrebon oleh orang-orang urbanisasi dalam rangka buruh menuai padi pada musim panen di Kecamatan Cibinong. (baca juga : kesenian cirebon)

7. Calung



Seni Calung adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tatar sunda, Kabupaten Kuningan.. Yang memiliki sumber daya alam dan sumber wisata budaya yang melimpah. Dalam perkembangannya seni calung terbagi kedalam dua jenis :

1. Seni Calung Tradisional
2. Seni Calung Modern

Seni Calung tradisional adalah seni Calung dengan memakai alat atau waditra yang masih sederhana. Sedangkan Seni Calung Modern adalah seni Calung yang sudah dimodifikasi baik dari waditra yang ada atau adanya penambahan waditra baru (modern) seperti : gitar, keyboard, dll.

Di masa sekarang, karena tuntutan mengikuti perkembangan zaman, pentas seni Calung harus dapat menyajikan sebuah seni pertunjukan yang kreatif dan inofatif. Sehingga pesan yang akan disampaikan menjadi komunikatif.

Thursday, 20 August 2015

Sejarah Kuningan

Asal Mula Kabupaten Kuningan
Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang.

Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui putranya Sang Mandiminyak yang menggantikannya sebagai Raja Galuh (703-710) dan cucunya Sang Sena yang menjadi raja berikutnya (710-717).